Surabaya, Aku Rindu Ludruk mu

23 Dec 2011

Cak Cholik ~ Penggemar Ludruk

Cak Cholik ~ Penggemar Ludruk

Sawunggaling wayange kuno

Sing digawe kayune jati

Nek peno eling ndang sambangono

Ojok gawe gelani ati

.

Esuk nyuling sore yo nyuling

Sulingane arek Suroboyo

Esuk eling sore yo eling

Sing di eling-eling ora rumongso

.

Parikan diatas dilantunkan oleh seorang pelawak pada sebuah pagelaran ludruk di Surabaya. Ya, ludruk merupakan kesenian tradisional Jawa Timur yang sangat merakyat dan menjadi hiburan segar dan murah.

Sebagai anak desa saya sangat gemar menonton ludruk, baik yang pentas di tempat orang hajatan maupun yang main di gedung-gedung pertunjukan. Saya rela menyisihkan uang saku untuk membeli karcis pertunjukan ludruk. Bahkan saya tak sungkan-sungkan mengadakan OpsPur ~ bukan operasi tempur, tetapi singkatan dari Operasi Tempurung alias Kridho Lumahing Arto (alias ngemis..ha ha ha ha..) ke pakde, paklik,buklik, embah dan famili yang lain demi mendapatkan uang untuk sangu nonton ludruk. Sayapun tahan berdiri dan duduk berlama-lama untuk menikmati ludruk.

Dalam pentas ludruk dengan lakon Pak Sakerah, Sarip Tambak Oso, Untung Surapati, SamPek Ing Tay sangat saya hafal jalan ceritanya. Lakon itu sangat bagus dan sering ditampilkan oleh berbagai grup ludruk.

.

Tari Remo sebagai tarian pembuka pentas Ludruk

Tari Remo sebagai tarian pembuka pentas Ludruk

.

Dalam perkembangan selanjutnya, ludruk juga dapat saya dengarkan melalui RRI Surabaya bahkan kesenian ini akhirya dapat pula saya saksikan melalui layar televisi. Ini tentu sangat menggembirakan.

Namun sayang seribu kali sayang. Kejayaan ludruk semakin lama semakin pudar. Jangankan di lingkup nasional, di wilayah Surabaya dan Jombang yang dulunya merupakan gudang ludruk kini jarang terdengar ada pentas ludruk. Sangat jarang orang yang mempunyai hajatan kini nanggap ludruk, mereka lebih senang menampilkan organ tunggal, dagdhutan atau kuda lumping. Di gedung kesenianpun kini langka melihat pentas ludruk. Sudah belasan tahun saya mencari dimana ada pentas ludruk, tetapi hingga kini belum saya ketemukan.

Namun anehnya, jika ada Festival Ludruk pesertanya boleh dibilang lumayan jumlahnya seperti Festival Ludruk yang diselenggarakan oleh Disparbudpora Kabupaten Sidoarjo pada bulan November 2011 yang lalu. Demikian pula Festival Ludruk yang diselenggarakan oleh Pemkot Surabaya pesertanya cukup banyak.

Beberapa faktor penyebab semakin langkanya pagelaran ludruk antara lain :

1. Pemilik hajatan enggan nanggap ludruk karena biayanya mahal, belum lagi harus menyiapkan makan, snack, rokok bagi para pemain ludruk dan para niyaganya yang jumlahnya cukup banyak. Selain itu pentas ludruk waktunya dianggap terlalu lama sekitar 8 jam (mulai jam 21.00 hingga 04.00)

2. Akibat sangat berkurangnya orang yang nanggap ludruk menyebabkan pentas ludruk semakin langka.

3. Animo masyarakat yang nonton ludruk di gedung pertunjukan juga memprihatinkan. Selain harus mengeluarkan uang untuk membeli karcis mereka tampaknya juga lebih senang menonton TV yang acaranya semakin menarik dan beragam.

4. Langkanya pentas ludruk di TV kemungkinan karena acara ini ratingnya kurang bagus dibandingkan dengan sinetron, film, acara olahraga dan lain sebagainya. Beruntung di JTV masih ada Ludruk Kartolo cs.

5. Anak-anak muda kurang berminat menonton pentas atau siaran ludruk. Mereka lebih senang dangdhutan, nge Band atau nonton konser musik. Jika ada pelajar yang main ludruk itupun hanya dalam rangka Festival belaka.

Melihat fenomena ini sedih rasanya. Surabaya nggak ada ludruk yo kecut, rek !! Padahal jumlah ludruk di Jawa Timur khususnya di Surabaya konon cukup banyak jumlahnya.

.

Surabayaaaaaaaaaaaaaa, endi ludrukmu ???? Aku rindu !!

Dulu saya sering nonton Ludruk Gema Tribrata binaan Yon 411 Brimob. Dulu juga saya suka nonton Ludruk Ajdam V/Brawijaya, Ludruk Putra Bhirawa, Ludruk Sari Rukun, Ludruk Budi Daya, Ludruk Baru Budi, Ludruk Masa Marhaen, Ludruk Gema Budaya, Ludruk Sari Murni, Ludruk Biyana Mayangkara, dan lain sebagainya. Kemana dan dimana grup-grup ludruk itu kini ??

Surabaya, aku rindu ludrukmu.

Aku rindu irama gendang itu

Aku rindu suara gongseng yang crink..cring..crink…itu

Aku rindu lambaian selendang penari ngremo itu

Aku rindu parikan jenaka dari para pelawak itu.

Surabaya, aku rindu ludrukmu

Sungguh aku rindu ludrukmu !!

.

Ekspresi Blogger Indonesia

.

Haruskan aku mendirikan “Ludruk dBlogger Budaya” agar rindu ini terobati??

Artikel ini diikutsertakan dalam Kontes Blog, From Surabaya With Blog.


TAGS Ekspresi Blogger Indonesia


-

Profil Penulis

Abdul Cholik lahir tanggal 213 Agustus 1950 di Jombang, Jawa Timur. Setelah menjadi purnawirawan melanjutkan hobi menulis dengan ngeblog dan menulis buku.

Search

Artikel Terbaru