Pentingnya Disiplin Nasional Dalam Indonesia Move On

8 May 2014

“Umur terus bertambah,belum juga move on,” kata seorang wanita yang baru saja merayakan ulang tahun. Kata move on ini bak virus,menjalar kemana-mana, dipakai siapa saja. Kini tercetus kalimat Indonesia Move On. Barangkali untuk mendampingi slogan Indonesia Hebat, Indonesia Lebih Baik, dan sejenisnya.

Slogan seperti ini bukan hanya muncul di era IT saja. Sejak dulu sudah ada. Ini senada seirama dengan munculnya kata Gerakan, misalnya Gerakan Anti Korupsi, Gerakan Anti Pembodohan dan lain sebagainya. Efektivitasnya tergantung siapa yang mengumandangkannya.

Indonesia Move On, siapapun yang menciptakan atau menggelorakan tentu akan mendapat dukungan seluruh rakyat Indonesia. Asal bukan hanya tekad sesaat. Jika menjadi kalimat yang hanya manis di spanduk dan baliho semata tentu tak ada artinya. Harus ada langkah nyata di lapangan, itu prinsipnya.

Saya menyambut positif upaya BLOGdetik dan Dompet Dhuafa menggelar lomba blog (tulisan) dengan tema Indonesia Move On. Seperti yang dikatakan bahwa tujuan daripada lomba tersebut selain menanamkan gemar menulis kepada masyarakat juga bisa meningkatkan daya kritis masyarakat dan kepekaan terhadap berbagai masalah sosial di sekitar kita dan solusinya.

Berkaitan dengan hal tersebut saya ingin menyoroti sebuah gerakan yang sangat bagus tetapi pelaksanaannya mengendor yaitu Gerakan Disiplin Nasional. Gerakan yang lazim disingkat GDN ini dicanangkan oleh Presiden Soeharto dengan memprioritaskan sasarannya pada budaya tertib,budaya bersih dan budaya kerja.

Bagaimana hasil gerakan ini ? Saya berani memberi angka merah, di bawah passing grade. Belum lulus. Hasil GDN belum menggembirakan.

Lihatlah di jalan raya, apakah para pengguna jalan raya sudah tertib? Saya kira belum. Pelanggaran lalu lintas terjadi setiap hari di mana-mana. Menerobos lampu merah,menerobos palang pintu kereta api, mengendarai sepeda motor tanpa helm pengaman masih sering dijumpai. Menyeberang jalan juga masih seenaknya. Akibat tidak disiplin ini kecelakaan lalu lintas masih cukup tinggi.

Bagaimana dengan tertib penggunaan anggaran negara? Korupsi belum berhenti,bukan. Pembalakan,penyuapan, mark-up, pemberian gratifikasi masih sering diberitakan. Uang sogok, uang semir, uang siluman, uang tahu sama tahu, uang panas, uang balas budi, baunya juga masih menyengat.

Budaya bersih idem dito. Buang sampah tidak pada tempatnya masih jadi hobi dan kebiasaan. Jika banjir datang masyarakat meradang, ketika musim kemarau buang sampah masih sembarangan. Sungai dan selokan masih menjadi tempat sampah terbesar dan terpanjang.

Budaya kerja walaupun agak lumayan tetapi tetap perlu ditingkatkan. Masuk kerja jam delapan,pulang jam enam sore sih oke. Tetapi apa yang dikerjakan di antara jam itu masih perlu ditingkatkan. Berkeliaran pada jam kerja masih dijumpai. Pada saat cuti lebaran juga masih ada yang nambah dengan berbagai alasan.

Dengan melihat kondisi tersebut di atas maka perlu digelorakan kembali Gerakan Disiplin Nasional (GDN) Sumberdaya manusia yang begitu besar, sumberdaya alam maupun buatan yang melimpah tak akan ada artinya jika pemimpin dan rakyatnya tidak disiplin. Pentingnya Disiplin Nasional untuk Indonesia Move On harus disebar-luaskan kepada seluruh rakyat Indonesia. Disiplin harus menjadi budaya bangsa. Selain itu para pemimpin di semua lini harus menjadi contoh teladan bagi bawahannya.

Dalam kehidupan pribadi disiplin yang berwujud ketaatan dan kepatuhan terhadap hukum,peraturan, dan norma yang berlaku sungguh sangat penting. Manusia yang tidak disiplin dalam hal makan saja bisa sakit loch. Apalagi dalam kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara disiplin sangat diperlukan.

Indonesia Move On bukan hanya perlu pemimpin yang hebat tetapi juga warganegara yang hebat pula. Di antara warga negara itu terdapat blogger yang umumnya juga sebagai pengguna Facebook dan Twitter. Suara mereka bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Dalam Jurnalisme Warga (Citizen Journalism) blogger dapat berperan aktif dalam menggelorakan kembali Gerakan Disiplin Nasional. Apa yang ditulis di blog, Facebook dan Twitter segera dapat dibaca oleh manusia sejagad hanya dalam hitungan detik. Ini tentu sangat menguntungkan karena apa yang kita informasikan bisa langsung mendapat respon.

Dengan memanfaatkan media yang ada, saya mengajak para sahabat untuk menjadi penyambung lidah rakyat dengan aktif menyuarakan aspirasi mereka. Caranya adalah segera melaporkan atau memberitahukan setiap kejadian yang tidak beres dalam bentuk postingan di blog, tulisan status di Facebook, dan kicauan di Twitter. Jika seorang blogger mendengar,melihat,merasakan dan mengalami kejadian yang tidak sejalan dengan Gerakan Disiplin Nasional dan Indonesia Move On bisa segera beraksi dengan menggunakan komputer dan kameranya.

Inilah beberapa sasaran yang layak disorot oleh para blogger.

1. Petugas atau instansi yang menangani kesehatan yang tidak melakukan tugasnya dengan baik. Fokus perhatian kepada pelayanan dan perlakuan terhadap kaum duafa atau miskin yang sedang berobat dan memerlukan penanganan segera.

2. Guru, dosen,pimpinan,staf,karyawan dari instansi yang menangani pendidikan yang tidak melakukan tugasnya dengan baik.

3. Orang,pejabat instansi pada seluruh level yang bertindak sewenang-wenang terhadap kaum duafa atau miskin misalnya tidak membagikan raskin dan balsam yang menjadi hak mereka. Termasuk di dalamnya pejabat,petugas yang memotong jatah dan atau melakukan pungutan liar terhadap golongan tidak mampu ini.

4. Orang, petugas, pejabat instansi penegak hukum yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Pilih kasih dalam menangani perkara, pemerasan, pungli, intimidasi, kongkalingkong dan aneka bentuk penyalahgunaan jabatan dan wewenangnya. Tindakan mereka harus segera dilaporkan.

5. Orang,petugas, pejabat,dan atau pengusaha yang dengan sengaja atau karena kelalaiannya menyebabkan kerugian harta kekayaan negara.

6. Mereka yang menyandang penyakit sosial juga layak diberitahukan dan dilaporkan. Para preman, geng-geng liar dan brutal yang bertindak semena-mena terhadap masyarakat perlu mendapat perhatian.

.

Pelanggaran lalu lintasKecil-kecil sudah melanggar

.

Setiap warga negara Indonesia berhak menyampaikan aspirasi dengan cara dan menggunakan media apa saja. Tentu saja dalam menyampaikan aspirasi atau laporannya tidak boleh asbun alias asal bunyi. Dia harus bertanggung jawab atas suara yang dikeluarkannya.

Demikian pula halnya dengan seorang blogger. Apa yang ditulis harus sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, bukan hanya berdasarkan asumsi, perkiraan atau kabar burung yang tidak jelas sumbernya. Unsur siapa,apa,bilamana,di mana, dan bagaimana harus jelas. Akan lebih baik jika dilengkapi dengan unsur mengapa nya.

Gerakan Disiplin Nasional dalam Indonesia Move On sangat penting agar Indonesia menjadi lebih baik. Insya Allah saya juga akan ikut berperan serta dalam Citizen Journalism sesuai kemampuan.

.

Artikel ini diiutsertakan dalam kontes bertajuk Indonesia Move On

.


TAGS Indonesia Move On Citizen Journalism Jurnalis warga media sosial gerakan disiplin nasional


-

Profil Penulis

Abdul Cholik lahir tanggal 213 Agustus 1950 di Jombang, Jawa Timur. Setelah menjadi purnawirawan melanjutkan hobi menulis dengan ngeblog dan menulis buku.

Search

Artikel Terbaru