Buka Bersama Penuh Makna

29 Jun 2015

Acara buka bersama seolah menjadi suatu tradisi di negeri tercinta ini. Saya sendiri merasakan manfaatnya. Selain sebagai media silaturahmi acara buka bersama juga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan ilmu agama. Hal ini karena pada setiap acara buka bersama yang saya alami selalu ada acara ceramah agama. Ada yang menyebutnya kultum (kuliah 7 meit) namun prakteknya bisa lebih dari 15 menit.

Ketika saya masih dinas aktif di lingkungan militer seringkali mengikuti acara berbuka bersama yang diselenggarakan oleh Kodam, Polda, maupun instansi sipil. Susunan acaranya rata-rata hampir mirip. Acara biasanya diawali dengan sambutan dari komandan kesatuan dilanjutkan dengan kultum. Begitu masuk waktu berbuka puasa tamu undangan dipersilakan makan takjil berupa minuman dan makanan kecil. Usai itu kami segera mengikuti shalat Maghrib  berjamaah. Yang bertindak sebagai imam shalat Maghrib biasanya Perwira Rokhani dari kesatuan setempat atau imam yang diundang dari luar instansi. Pada acara buka bersama di kesatuan-kesatuan Panglima juga memberikan kata sambutan. 

Hidangan makan malam kami nikmati usai shalat Maghrib. Penyelenggaraan shalat tarawih disesuaikan dengan acara yang telah disusun oleh tuan rumah. Jumlah rakaat shalat tarawih umumnya 8 rakaat plus 3 rakaat shalat witir.  

Ketika saya menjabat sebagai Komandan kesatuan Polisi Militer di Palembang dan Surabaya saya sering mengikuti Pangdam dalam  acara safari Ramadhan ke daerah-daerah. Selain Panglima dan Kepala Staf, ikut pula dalam rombongan para asisten dan komandan/kepala satuan/dinas/jawatan. Sering juga didampingi oleh isteri masing-masing. Kami berangkat ke kesatuan pengundang bersama-sama dalam bentuk konvoi kendaraan. Ketika dinas di Palembang, lokasi terjauh acara buka bersama adalah di markas Batalyon Kavaleri di Karang Endah. Sedangkan ketika dinas di Surabaya, Jawa Timur kami pernah safari Ramadhan sampai Nganjuk, Malang, dan Bangkalan. Selama acara buka bersama kami memakai pakaian muslim, bukan mengenakan pakaian seragam militer.

Bagaimana hidangan berbuka puasa di lingkungan kesatuan TNI waktu itu? Sepertinya standart saja. Takjilnya berupa kurma, kolak, makanan kecil, teh panas, kopi, atau air putih. Sementara hidangan makan malamnya berupa nasih putih dan lauk-pauk berupa sayur berkuah (sup, soto, rawon,dll) , tahu-tempe, ayam goreng, pepes ikan, sambal lalap,  dan lain-lain sesuai selera tuan rumah. Intinya kami berbuka puasa tanpa mewah-mewah. Standart prajurit lah. 

Oh iya, karena kala itu belum dikenal istilah selfie maka saya juga tak pernah berselfie ria. Acara biasanya diabadikan oleh fotografer dari kesatuan pengundang atau petugas dari penerangan Kodam yang ikut dalam rombongan Panglima.

Acara buka bersama berlangsung hingga kini. Saya yang sudah pensiun juga masih mengadakan buka puasa bersama para pensiunan. Maksimal sebanyak dua kali selama Ramadhan, cukup untuk silaturahmi.

Selama ini saya belum pernah mengikuti buka bersama yang diadakan oleh komunitas blogger. Semoga lain waktu bisa diadakan agar silaturahmi di antara blogger dapat terjalin dengan baik. Kemasannya tak perlu terlalu formal. Demikian pula hidangannya, cukup sederhana saja, sehat, agar tidak terjadi pemborosan. Harus pula dicegah agar acara buka bersama bukan menjadi ajang unjuk diri atau pamer tetapi benar-benar untuk ibadah. Buka bersama penuh makna itulah intinya.

.

 


TAGS ngaBLOGburit2015


-

Profil Penulis

Abdul Cholik lahir tanggal 213 Agustus 1950 di Jombang, Jawa Timur. Setelah menjadi purnawirawan melanjutkan hobi menulis dengan ngeblog dan menulis buku.

Search

Artikel Terbaru