Tradisi Lebaran yang Sudah Hilang di Kampung Saya

8 Jul 2015

Sekurang-kurangnya ada dua tradisi Lebaran yang sudah hilang dan tidak dilaksanakan lagi di kampung saya.

1. Menyalakan mercon (petasan) dari bambu atau mercon berbentuk lobang di tanah.

Ketika saya masih kecil suka menyalakan mercon yang terbuat dari sebatang bambu. Bahan bakarnya bensin atau karbit. Sebatang bambu beriukuran sekitar satu meter yang terdiri dari beberapa buku dilubangi pembatas tengahnya kecuali pembatas terakhir. Pada badan bambu dilubangi sebesar ibu jari tangan. Ke dalam tabung bambu itu kemudian dimasukkan bensin. Setelah itu pada lubang kecil yang ada di body bambu diberi sumbu. Kalau akan menyalakan maka sumbu di ambil lalu api disentuhkan ke lubang tersebut. Keluarlah suara yang cukup keras. Selain diisi bensin, pada batang bambu juga bisa diisi dengan karbit. Suaranya juga tidak kalah keras.

Selain menggunakan bambu kami juga suka membuat mercon yang lebih besar ukurannya. Kami menggali tanah yag ada di kebun atau halaman.Lebarnya sekitar 30 cm, panjang 1,5 meter dan dalamnya kira-kira dua jengkal. Lubang mirip makam itu kemudian di tutup dengan papan yang pada ujungnya diberi lubang. Setelah itu diuruk dengan tanah dan ditaruh batu yang cukup besar di atasnya. Karbit seukuran ibu jari dimasukkan ke dalam kaleng yang diisi air. kaleng itu lalu dicepat dengan bilah bambu lalu dimasukkan ke dalam galian tanah tadi. Pada lubang atas ditutup dengan kayu atau kain. Jika akan meledakkan maka penutup lubang diambil lalu api disentuhkan pada lubang tersebut. Bunyinya lebih keras daripada mercon bambu.

Kini anak-anak lebih senang membunyikan petasan yang dibeli di pasar atau toko karena lebih praktis dan bentuknya beraneka ragam.

 

2. menyalakan colok pada hari H-1 Lebaran.

Colok adalah pelita yang terbuat dari kain yang diikat pada sebatang lidi pendek atau bambu yang sudaj diserut. Menjelang sholat Maghrib kami menyalakan colok atau pelita itu dan meletakkan di beberapa tempat di luar rumah. Antara lain di tiap[ sudut rumah, di tempat sampah atau di tungku dapur. Kata Nenek, lampu ini untuk menerangi arwah almarhum kakek atau sesepuh lainnya yang akan pulang menjelang Lebaran.

Memasang colok juga sudah tidak dilaksanakan lagi oleh penduduk kampung saya. Mungkin kesadaran sudah tinggi bahwa arwah bisa pulang ke rumah tanpa dibantu dengan lampu colok. Apalagi sekarang listrik sudah masuk desa.

Itulah dua tradisi Lebaran yang sudah hilang di kampung saya. Sedangkan tradisi “weweh” mengantar nasi kepada kerabat dana tetangga masih berlangsung hingga sekarang. Dulu saya paling senang jika disuruh Emak “weweh” ke famili. Maklum penerima wewehan selalu ngasih angpao. Alhasil pas Lebarang bisa membeli makanan atau mercon lebih banyak lagi.

 


TAGS ngaBLOGburit2015


-

Profil Penulis

Abdul Cholik lahir tanggal 213 Agustus 1950 di Jombang, Jawa Timur. Setelah menjadi purnawirawan melanjutkan hobi menulis dengan ngeblog dan menulis buku.

Search

Artikel Terbaru