Pentingnya Maaf Memaafkan

9 Jul 2015

Tradisi Halal bi Halal selalu mewarnai perayaan Idul Fitri. Kegiatan ini ditandai dengan bersalaman sambil saling meminta maaf dan juga saling memaafkan. Tentu saja kegiatan bersalaman ini hanya bisa dilakukan apabila dua orang atau lebih bertemu secara fisik. Jika karena suatu hal lokasi mereka berjauhan maka permintaan dan memberi maaf secara lisan bisa dilakukan dengan sarana komunikasi telepon. Sebaliknya jika ingin melakukan Halal bi Halal dengan memakai komunikasi tulisan bisa menggunakan SMS, BBM, Chatting, dan saling mengirim surat atau kartu pos.

Sejak kecil saya dan teman-teman sudah menyaksikan dan ikut acara Halal bi Halal. Kami yang masih anak-anak mengunjungi rumah penduduk satu-persatu. Kami menyalami tuan dan nyonya rumah lalu duduk sejenak sambil menikmati hidangan berupa kue-kue. Jika datang tamu yang lainnya biasanya kami langsung berpamitan. Kala itu masih belum musim angpao sehingga kami tidak menerima angpao ketika bersalam-salaman. Enakan anak jaman sekarang ya, banyak angpaonya.

Halal bi Halal saat Lebaran bukan hanya saling mengunjungi rumah kerabat, sahabat, atau tetangga saja tetapi jaman sekarang sudah ada Halal bi Halal yang diselenggarakan oleh instansi atau komunitas. Pada jaman saya masih dinas, acara Halal bi Halal di kantor dilaksanakan di lapangan. Para pejabat teras, pimpinan dan staf berdiri berbaris di tempat yang telah ditentukan lalu kami mendatangi dan menyalami mereka satu persatu. Selanjutnya kami juga baris untuk menerima ucapan Idul Fitri dari barisan yang ada di belakangnya. Halal bi Halal bersama seperti itu masih berlangsung hingga sekarang. Adakalanya bukan hanya sekedar salam-salaman bersama tetapi juga ada yang mengisinya dengan hiburan dan makan-makan segala.

Inti dari Halal bi Halal sebenarnya adalah saling minta maaf dan memaafkan. Perbuatan mulia ini memang dianjurkan untuk menghilangkan rasa dendam, sakit, hati, iri, dan dengki. Dua orang atau lebih, sahabat, tetangga, atau kerabat, yang semula tidak bertegur sapa selama bertahun-tahun bisa diakurkan kembali melalui acara Halal bi Halal. Bukankah lebih baik memelihara dan mengokoh-kuatkan tali silaturahmi daripada saling buang muka dan membenci. Tentu saja untuk saling minta maaf dan memaafkan tidak harus menunggu hari baik atau hari Lebaran.

Saya tidak begitu mengetahui apakah tradisi Halal bi Halal ini juga dilakukan oleh bangsa lain. Ketika saya sekolah di Amerka dan India, pas Lebaran kok nggak melihat ada acara Halal bi Halal ya. Jika ada, paling yang menyelenggarakan adalah KBRI setempat.

.’

 

 


TAGS ngaBLOGburit2015


-

Profil Penulis

Abdul Cholik lahir tanggal 213 Agustus 1950 di Jombang, Jawa Timur. Setelah menjadi purnawirawan melanjutkan hobi menulis dengan ngeblog dan menulis buku.

Search

Artikel Terbaru