Hacker Menggondol Uangku

3 Jan 2016

Suatu hari di tahun 2015.

Muncul pesan di inbox: “Pakde sedang sibuk?” tanya sahabat yang saya kenal dengan baik.

Saya menjawab: “Tidak, Mbak.”

“Kalau ada dan tidak keberatan saya mau pinjam uangnya.”

“Berapa, Mbak?”

“Tiga juta saja , besok saya kembalikan. Tolong dikirimkan kepada sahabat saya bernama …. Nomor rekeningnya……”

Saya terdiam sejenak. Ingat status seorang sahabat yang bercerita bahwa dirinya nyaris kena tipu teman baiknya. Instink saya jalan. Saya mencoba menjajaki apakah saya benar- benar sedang chating dengan orang yang saya kenal itu.

“Sebentar ya Mbak. Apakah Mbak pernah kopdar dengan saya?”

“Ya pernah tho Pakde.”

“Mbak ingat judul buku yang pernah saya kasih waktu kopdar?”

“Lho, jadi Pakde nggak percaya sama saya. Ya sudah kalau begitu nggak jadi. Maaf telah merepotkan.”

Sodara, sodara. Saya merasa nggak enak. Wong ada sahabat baik minta tolong kok malah saya lakukan fit and proper test. Walau saya blogger urakan tetapi perasaan saya kan peka, nggak tegaan. Saya berniat membantunya.

“Oke, Mbak saya bantu. Saya tak ke ATM sebentar.”

“Kalau sudah transfer tolong kasih tahu ya Pakde.”

Saya segera menuju ATM dekat rumah dan langsung transfer tiga juta rupiah. Setelah itu saya kembali ke ruang chating untuk mengabarkan bahwa uang sudah saya transfer. Saya attach struk bukti transfer.

“Nanti uangnya saya transfer ke mana, Pakde? Mohon noreknya.”

Saya kasih norek. bank lain. Bukan bank rekening bank yang saya pakai transfer tadi.

“Ooo tadi transfernya pakai Bank…ya, Pakde? Kalau bisa saya minta norek bank… itu Pakde karena saya nggak punya norek yang bank satunya itu,”

“Sama saja kok Mbak caranya.”

“Saya minta norek bank itu saja, Pakde.” Lho kok maksa. Saya semakin curiga maka permintaannya saya tolak.

“Nggak mau!” jawab saya tegas. Saya sudah nggak enak karena merasa bukan chating dengan sahabat baik.

“O ya sudah kalau begitu. Terima kasih, Pakde.”

Tak lama usai chating semua conversation di atas lenyap. Tampaknya sudah dihapus.

Saya telah tertipu oleh hacker.

Dua hari setelah itu pemilik akun menulis status: “Alhamdulillah akun sy sudah pulih kembali..”

Betul dugaan saya. Kemarin itu akun Facebooknya di bajak oranglain untuk melakukan kejahatan

Sodara, sodara. Peraaan kasihan, tidak tega , setia kawan, rasa hornat, telah menyebabkan kewaspadaan saya hilang diikuti uang saya. Semoga sahabat tidak mengalami kejadian serupa.

Kepada sang penipu silakan nikmati uang saya. Saya yakin Tuhan sudah punya cara untuk menghandle masalah ini. Jika si penipu membaca artikel ini pasti dia tertawa sambil bilang:” Emangnya enak ditipu.”

Ditipu memang tidak enak. Ketika kita sedang bersedih karena telah kehilangan sesuatu penipu justeru sedang bergembira sambil tertawa ngakak.

Para sahabat harap waspada agar tidak mengalami peristiwa seperti saya. Hacker telah mempalajari lagak-lagu kita sehingga dia juga ikut-ikutan memanggil saya dengan sebutan ‘Pakde’. Jika ada orang yang minta sesuatu dari kita jangan segan-segan mengecek identitasnya dengan cara yang sip. Maklum penipuan bukan hanya dilakukan secara langsung tetapi sudah memanfaatkan dunia maya. 


TAGS Tipuan hacker hacker media sosial penipuan uang


-

Profil Penulis

Abdul Cholik lahir tanggal 213 Agustus 1950 di Jombang, Jawa Timur. Setelah menjadi purnawirawan melanjutkan hobi menulis dengan ngeblog dan menulis buku.

Search

Artikel Terbaru