• 3

    Jan

    Hacker Menggondol Uangku

    Suatu hari di tahun 2015. Muncul pesan di inbox: “Pakde sedang sibuk?” tanya sahabat yang saya kenal dengan baik. Saya menjawab: “Tidak, Mbak.” “Kalau ada dan tidak keberatan saya mau pinjam uangnya.” “Berapa, Mbak?” “Tiga juta saja , besok saya kembalikan. Tolong dikirimkan kepada sahabat saya bernama …. Nomor rekeningnya……” Saya terdiam sejenak. Ingat status seorang sahabat yang bercerita bahwa dirinya nyaris kena tipu teman baiknya. Instink saya jalan. Saya mencoba menjajaki apakah saya benar- benar sedang chating dengan orang yang saya kenal itu. “Sebentar ya Mbak. Apakah Mbak pernah kopdar dengan saya?” “Ya pernah tho Pakde.” “Mbak ingat judul buku yang pernah saya kasih waktu
    Read More
  • 10

    Dec

    Naik Kereta Api Memang Menyenangkan

    Naik kereta api jaman sekarang ternyata lebih menyenangkan. Setidaknya itu yang saya alami. Kesenangan itu dimulai saat membeli tiketnya. Selain membeli langsung di stasiun kini penumpang sudah bisa membeli tiket kereta api secara online atau melalui toko yang ditunjuk. Saya misalnya bisa membeli di supermaket dekat rumah saya. Ini sangat praktis dibandingkan dengan jaman dulu yang harus pergi ke stasiun dengan antrian yang cukup panjang. Tanda pembelian tiket di luar stasiun ini bisa ditukarkan di stasiun pada hari H keberangkatan. Selain itu calon penumpang juga bisa mencetak tiket sendiri dengan memasukkan kode booking yang ada. Mudah dan tertibnya pembelian karcis seperti ini bisa menghindarkan penumpang dari percaloan tiket. Kenyaman yang kedua adalah saat berada di stasiun. Kondisi
    Read More
  • 20

    May

    Membangkitkan Budaya Malu

    Hari Kebangkitan Nasional, tanggal 20 Mei 2015, merupakan momen yang pas untuk membangkitkan budaya malu pada diri kita, termasuk diri saya. Maklum, dalam kondisi tertentu, rasa malu itu bisa hilang. Kurangnya rasa malu bisa menyebabkan manusia dapat melakukan apa saja, baik sembunyi-sembunyi ketika sendiri di tempat sepi maupun secara terang-terangkan dan di tempat ramai. Dengan membangkitkan budaya malu maka saya akan merasa malu dan tidak nyaman jika saya: 1. Tidak istiqomah, ikhlas, baik, dan benar dalam beribadah. Misalnya: lalai dalam shalat, bercerita ke sana-kemari ketika memberikan uang atau barang kepada orang lain, makan secara sembunyi-sembunyi ketika sedang berpuasa, ghibah, nggosip. 2. Tidak berlaku baik kepada orangtua yang telah melahirkan, membesarkan, merawat, dan mendid
    Read More
  • 9

    Apr

    Jangan Mengusik Manusia Yang Sudah Meninggal Duniau

    Mengusik orang yang sudah meninggal dunia bukanlah perbuatan terpuji. Yang namanya mengusik tentu konotasinya negatif misalnya membicarakan aibnya. Almarhum/almarhumah tentu mempunyai keluarga yang juga mempunyai hati dan perasaan. Bayangkan jika anak, kakak, suami, isteri, dan orangtua yang sudah meninggal dunia dibahas tiap hari di layar tivi atau sosial media. Tentu sanak-kadangnya merasa terganggu bahkan malu hati. Memang ada pepatah harimau mati meninggal belang, manusia mati meninggalkan nama. Namun itu tidak berarti kita bisa membahasnya pada setiap kesempatan. Lebih baik kita mendoakan, memohonkan ampun atas kesalahannya. Dengan cara itu maka kita juga akan memperoleh kebaikan. Mungkin yang meninggal dunia pernah menyakiti hati bahkan mungkin menyengsarakan kita. Kita selayaknya
    Read More
  • 11

    Mar

    Cara Mengatasi Putus Cinta

    Katanya, putus cinta itu bisa membuat manusia klimpungan. Ada yang nggak doyan makan, ada pula yang tak bisa tidur. Bahkan ada yang sampai terkena komplikasi makan tak enak, tidur tak nyenyak, dan uang di kantong juga cekak. Sampai ada yang melansir lagu Lebih Baik Sakit Gigi untuk menjelaskan betapa hebatnya akibat dari putus cinta. Cara mengatasi putus cinta sebenarnya sangat mudah. Tak perlu mengonsumsi obat atau jamu. Juga tak perlu menyendiri di tempat sepi, berendam di sungai, atau pijat refleksi. Tak usah sedu sedan itu. Putus cinta ketika masih berpacaran bahkan harus disyukuri. Bilang saja :”Untung putus cintanya sekarang, coba kalau putus cinta setelah janur kuning melambai-lambai kan malah lebih kacau. Malunya itu di sini.” . . Nah bagi mereka yang masih tetap butuh
    Read More
- Next

Profil Penulis

Abdul Cholik lahir tanggal 213 Agustus 1950 di Jombang, Jawa Timur. Setelah menjadi purnawirawan melanjutkan hobi menulis dengan ngeblog dan menulis buku.

Search

Artikel Terbaru